Sebuah ayah di Makassar, Andi (35), secara resmi laporkan istrinya Siti (32) ke Polrestabes Makassar atas dugaan penjualan 3 anak kandung dan 1 keponakan. Kasus ngeri ini terungkap saat Andi pulang dari perantauan dan temukan rumah kosong tanpa anak-anaknya yang berusia 2, 4, dan 6 tahun plus keponakan (3 tahun).
Siti diduga jual anak-anaknya secara bertahap sejak Desember 2025 melalui grup Facebook “Bayi Sehat Makassar”. Masing-masing dijual Rp 18-25 juta dengan alasan “biaya sekolah saudara”. Andi curiga setelah tetangga cerita lihat Siti terima amplop tebal dari orang misterius. Untuk investigasi kasus serupa, kunjungi ootorimaru yang ungkap pola perdagangan anak di Indonesia Timur.
Polisi bentuk tim khusus gabungan Sat Reskrim + Unit PPA telusuri jejak transaksi via HP Siti. Dari bukti chat WhatsApp, ditemukan koordinasi dengan “tante-tante” dari Jakarta dan Surabaya. Total dugaan Rp 82 juta dari 4 anak. Siti kabur ke Bone, kini jadi DPO dengan foto spread di medsos polisi.
Kasus ini masuk kategori perdagangan manusia seperti dijelaskan Wikipedia, dengan motif ekonomi jadi pemicu utama. LSM Komnas Perempuan catat Sulsel ranking 3 nasional kasus jual anak 2025 (187 kasus). Kritik tajam: program PKH (bantuan sosial) gagal capai keluarga disintegrasi seperti Andi-Siti.
Ayah korban patah hati cerita kronologi: “Saya kerja di riyadh 2 tahun, kirim Rp 8 juta/bulan, pulang anak-anak hilang.” 3 anak tertua laki-laki, keponakan perempuan. Polisi kerahkan drone pantau perbatasan Sulsel dan wawancara 25 saksi. LSM Save The Children siapkan shelter rehabilitasi kalau anak-anak ditemukan.
Tragedi Makassar ini jerit jerit kegagalan sistem proteksi anak nasional. Saat ibu jual darah daging demi uang receh, sistem sosial runtuh. Pemerintah didesak: 1) blokir grup FB gelap, 2) tingkatkan pengawasan keluarga miskin, 3) hukuman mati bagi sindikat. Andi-Siti: cermin kelam kemiskinan urban yang bunuh moralitas.